“Shania.” Sapaku pada wanita itu.
“Hei…” Balas Shania.
“Shan, udah ngerjain PR matematika?” Tanyaku.
“Baru selesai 13 nomer, abisnya susah.”
“Iya sih, MATEMATIKA, Makin Tekun Makin Tidak Karuan ya, Shan.”
“Hahaha lucu banget sih kamu.” Ucap Shania.
“Emanganya Badut, lucu.” Balasku.
Aku dan Shania berjalan bersama. Kini aku dan Shania memasuki gerbang sekolah. Aku menghampiri teman-temanku dikantin dan Shania menghampiri temannya di lorong sekolah. Bel sekolah berbunyi. Aku segera kekelasku yang dilantai dua.
Mentari sinari ruang kelas, hawa tepat tuk terbuai lamunan. Melihat Shania yang duduk di depanku, membuat rasa ingin memanggil namanya. Ibu guru menyebut absen murid kelas.
“Shania Junianatha?” Panggil ibu Guru. Aku dan Shania mengangkat tangan bersamaan.
“Aa.. A, a, azzeeekkk. Yang dipanggil satu, yang nyaut, duaaaa.” Ledek Ochi.
“Sudah, sudah.” Bu Guru menenangkan.
“Eh, Shan, maaf yah.” Ucapku.
“Iyaa, gapapa kok.” Balas Shania sambil tersenyum.
Pelajaran dimulai, Shania masih sesekali menoleh kebelakang dan senyum padaku. Dan Ochi pun juga meledek.
Bel istirahan berbunyi. Aku keluar dari mejaku, begitu juga Shania. Saat aku berjalan, aku sempat menabrak ia yang didepanku. Ia membalikkan badannya dan tersenyum. Ah, kenapa harus tersenyum padaku? Membuat aku ingin mimisan saja melihat senyumnya yang manis.
Kantin siang itu cukup ramai. Aku duduk bersama teman-temanku didekat tembok. Shania duduk dengan Ochi di tengah. Dari tempat dudukku, masih bisa terdengar suara Ochi dan Shania.



